Minggu, 11 Oktober 2009

Gempa Padang 30SGP

Gempa Padang, 30 September 2009
Oktober 1, 2009 oleh fety

Kemarin bumi barat Indonesia kembali berguncang. Setelah Tasikmalaya 2 September 2009 kemarin, kali ini Padang kembali dibalut cekaman ketakutan tentang tsunami. Gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 yang tidak hanya meluluhlantakkan wilayah pantai pesisir barat Sumatera, tapi juga sebagian wilayah Asia, begitu menghantui masyarakat Padang kali ini.



peta gempa Padang 30 September 2009 (http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/recenteqsww/Maps/10/100_0.php)

Belajar tentang gempa selama setahun ini memberiku begitu banyak pelajaran penting, kalau kita memang mesti ‘bersahabat’ dengan alam Indonesia yang memang dikelilingi oleh rangkaian tectonic plate aktif. Tapi, ternyata kita masih belum bisa bersahabat dengan alam. Ada begitu banyak kerugian pasca gempa, terutama ratusan nyawa manusia melayang. Entah apa yang salah. Mungkin, Indonesiaku sedang bergerak untuk bersahabat dengan alam.

Ah, semoga suatu saat ini, ada saat aku menemukan ketika gempa dan tsunami bukan lagi sebuah ketakutan, tapi sesuatu yang memang sudah disadari sehingga perlengkapan dan penelitian tentang keduanya mendapat tempat di hati Indonesia.

@lab, in the beginning of autumn, Okt 2009

Sabtu, 23 Mei 2009

Perkembangan Emosi Peserta Didik

TUGAS TERSTRUKTUR

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Tentang

PERKEMBANGAN EMOSI PESERTA DIDIK

Oleh:

ELIA EKA PUTRI : 104.088

NIRA DEVILIANY : 147.058

OKTAFIANDI : 147.061

Dosen:

Dra. DESMITA, M.Si

Dra. FADHILAH SYAFWAR, M.Pd

PROGRAM STUDY TADRIS BAHASA INGGRIS JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

BATUSANGKAR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

Jika dilihat dari tiga ranah yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor, emosi termasuk kedalam ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis lainnya, seperti pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan kehendak. Individu akan mampu melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik jika disertai dengan emosi yang baik pula. Individu juga akan memberikan tanggapan yang positif terhadap terhadap suatu objek manakala disertai dengan emosi yang positif pula. Sebaliknya, individu akan melakukan pengamatan atau tanggapan negative terhadap sesuatu objek, jika disertai oleh emosi yang negative terhadap objek tersebut.

Menurut MĂ–nks, dkk, (1996), manusia dalam hidupnya mengalami dua perkembangan yaitu perkembangan secara fisik dan perkembangan secara mental. Perkembangan secara fisik dapat diukur dengan melihat usia kronologis seseorang dan puncak tertentu dari perkembangan fisik disebut kedewasaan. Perkembangan mental dapat dilihat berdasarkan tingkat kemampuan (ability) dan pencapaian tingkat kemampuan perkembangan tertentu dalam perkembangan mental yang hal tersebut dinamakan kematangan. Salah satu dari kematangan disini adalah kematangan emosi.

BAB II

PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN EMOSI PESERTA DIDIK

A. Pengertian Emosi

Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, yang diambil dari Oxford English Dictionary memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak.

Menurut Chaplin (1989) dalam Dictionary of psychology, emosi adalah sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin (1989) membedakan emosi dengan perasaan, parasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

Menurut Crow & Crow (1958), emosi adalah "an emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental and physiological stirredup states in the individual, and that shows it self in his evert behaviour". Jadi, emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik.

Menurut Hurlock (1990), individu yang dikatakan matang emosinya yaitu:

a. Dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial.

b. Pemahaman diri. Individu yang matang, belajar memahami seberapa banyak kontrol yang dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat

c. Menggunakan kemampuan kritis mental. Individu yang matang berusaha menilai situasi secara kritis sebelum meresponnya, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut.

Kematangan emosi (Wolman dalam Puspitasari, 2002) dapat didefinisikan sebagai kondisi yang ditandai oleh perkembangan emosi dan pemunculan perilaku yang tepat sesuai dengan usia dewasa dari pada bertingkahlaku seperti anak-anak. Semakin bertambah usia individu diharapkan dapat melihat segala sesuatunya secara obyektif, mampu membedakan perasaan dan kenyataan, serta bertindak atas dasar fakta dari pada perasaan.

Menurut Kartono (1988) kematangan emosi sebagai kedewasaan dari segi emosional dalam artian individu tidak lagi terombang ambing oleh motif kekanak- kanakan. Chaplin (2001) menambahkan emosional maturity adalah suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi dan karena itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pola emosional yang tidak pantas.

Smith (1995) mendefinisikan kematangan emosi menghubungkan dengan karakteristik orang yang berkepribadian matang. Orang yang demikian mampu mengekspresikan rasa cinta dan takutnya secara cepat dan spontan. Sedangkan pribadi yang tidak matang memiliki kebiasaan menghambat perasaan- perasaannya. Sehingga dapat dikatakan pribadi yang matang dapat mengarahkan energi emosi ke aktivitas-aktivitas yang sifatnya kreatif dan produktif. Senada dengan pendapat di atas Covey (dalam Puspitasari, 2002) mengemukakan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan keyakinan individu lain.

Menurut pandangan Skinner (1977) esensi kematangan emosi melibatkan kontrol emosi yang berarti bahwa seseorang mampu memelihara perasaannya, dapat meredam emosinya, meredam balas dendam dalam kegelisahannya, tidak dapat mengubah moodnya, tidak mudah berubah pendirian. Kematangan emosi juga dapat dikatakan sebagai proses belajar untuk mengembangkan cinta secara sempurna dan luas dimana hal itu menjadikan reaksi pilihan individu sehingga secara otomatis dapat mengubah emosi-emosi yang ada dalam diri manusia (Hwarmstrong, 2005).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.

B. Bentuk-bentuk Emosi Peserta Didik.

Daniel Goleman (1995) mengelompokkan emosi sebagai berikut:

1. Amarah

Rasa marah meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, dan tindak kekerasan. Rasa marah merupakan gejala emosional yang penting di antara emosi-emosi yang memainkan peranan menonjol dalam perkembangan kepribadian remaja, karena dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri. Banyaknya hambatan yang menyebabkan kehilangan kendali terhadap rasa marah, berpengaruh terhadap kehidupan emosional remaja. Rasa marah ini akan terus berlanjut jika keinginan, harapan, minat, dan rencananya tidak dapat terpenuhi.

2. Kesedihan.

Meliputi pedih, sedih, muram, suram, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi.

3. Rasa takut.

Meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri, dan panik. Peserta didik biasanya takut pada kejadian-kejadian yang berbahaya dan traumatik.

4. Kenikmatan.

Meliputi bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, bangga, takjub, terpesona, dan senang sekali. Rasa kenikmatan ini muncul apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Remaja akan mengalami kegembiraan apabila ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila cintanya diterima oleh seseorang yang ia cintai.

5. Cinta dan kasih sayang.

Meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang. Perasaan untuk mencintai dan dicintai orang lain sangat menonjol dalam perkembangan emosi peserta didik. Remaja tidak dapat hidup bahagia tanpa mendapatkan cinta kasih dari orang lain. Para remaja yang memberontak, nakal, radikal, umumnya disebabkan oleh kurangnya rasa cinta kasih sayang dari orang dewasa. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka dengan sebaik-baiknya.

6. Terkejut. Meliputi takjub, terpana, keheranan, terkejut.

7. Jengkel. Meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.

8. Malu. Meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, aib, dan hati hancur lebur.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Peserta Didik.

Beberapa ahli psikologi menyebutkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi seseorang (Astuti, 2005), yaitu:

1. Pola asuh orangtua.

Pola asuh orang tua terhadap anak bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja, sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh dari orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi peserta didik.

Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan anak, tempat belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial, karena keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama tempat anak dapat berinteraksi. Dari pengalamannya berinteraksi di dalam keluarga ini akan menentukan pula pola perilaku anak tehadap orang lain dalam lingkungannya. Dalam pembentukan kepribadian seorang anak, keluarga mempunyai pengaruh yang besar. Banyak faktor dalam keluarga yang ikut berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang anak, salah satu faktor tersebut adalah pola asuh orangtua (Tarmudji, 2001).

Pengasuhan ini berarti orangtua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat (Tarmudji, 2001). Dimana suatu tugas tersebut berkaitan dengan mengarahkan anak menjadi mandiri di masa dewasanya baik secara fisik maupun psikologis (Andayani dan Koentjoro, 2004).

Menurut Goleman (2002) cara orang tua memperlakukan anak-anaknya akan memberikan akibat yang mendalam dan permanen pada kehidupan anak. Goleman (2002) juga menemukan bahwa pasangan yang secara emosional lebih terampil merupakan pasangan yang paling berhasil dalam membantu anak-anak mereka mengalami perubahan emosi. Pendidikan emosi ini dimulai pada saat-saat paling awal dalam rentang kehidupan manusia, yaitu pada masa bayi.

Idealnya orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua orangtua anak akan belajar mandiri melalui proses belajar sosial dengan modelling (Andayani dan Koentjoro, 2004).

2. Pengalaman traumatik.

Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang, dampaknya jejak rasa takut dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkan dapat berlangsung seumur hidup. Kejadian-kejadian traumatis tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga (Astuti, 2005).

3. Temperamen.

Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional kita. Hingga tahap tertentu masing- masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia (Astuti, 2005).

4. Jenis kelamin

Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal antara laki- laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan sosial yang berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya (Astuti, 2005).

5. Usia

Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usianya. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Ketika usia semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut berkurang, sehingga mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi (Moloney, dalam Puspitasari Nuryoto 2001). Namun demikian, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seseorang yang sudah tua, kondisi emosinya masih seperti orang muda yang cenderung meledak- ledak. Hal tersebut dapat diakibatkan karena adanya kelainan- kelainan di dalam tubuhnya, khususnya kelainan anggota fisik. Kelainan yang tersebut dapat terjadi akibat dari pengaruh makanan yang banyak merangsang terbentuknya kadar hormonal.

6. Perubahan jasmani.

Perubahan jasmani ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan petumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidak seimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi peserta didik. Tidak setiap peserta didik dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti ini, lebih-lebih perubahan tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormone-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh peserta didik dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.

7. Perubahan Interaksi dengan Teman Sebaya.

Peserta didik sering kali membangun interaksi sesame teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk emacam geng. Interaksi antar anggotanya dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Fakor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Gejala ini sebenarnya sehat bagi peserta didik, tetapi tidak jarang menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada mereka jika tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa.

8. Perubahan Pandangan Luar.

Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri peserta didik, yaitu:

a. Sikap dunia luar terhadap peserta didik sering tidak konsisten

b. Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk peserta didik laki-laki dan perempuan.

c. Seringkali kekosongan peserta didik dimamfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.

9. Perubahan Interaksi dengan Sekolah.

Sekolah merupakan tempat pendidikan yang sangat diidealkan oleh pererta didik. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orang tuanya. Posisi guru disini amat strategis apabila digunakan untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.

D. Implikasi dalam Proses Pembelajaran.

Sehubungan dengan emosi peserta didik yang cendrung banyak melamun dan sulit diterka maka satu-satunya hal yang dapat guru lakukan adalah memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh dengan rasa tanggung jawab moral. Dalam hal ini, guru dapat membantu mereka yang bertingah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam pekerjaan atau tugas-tugas sekolah, sehingga mereka menjadi lebih mudah ditangani. Salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.

Apabila ada ledakan-ledakan kemarahan sebaiknya guru memperkecil ledakan emosi tersebut, misalnya dengan jalan tindakan yang bijaksana dan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan, dan memulai aktivitas baru. Jika kemarahan sisiwa tidak juga reda, guru dapat meminta bantuan kepada petugas bimbingan penyuluhan.

Untuk menujukan kematangannya, peserta didik terutama lakai-laki sering terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa. Seorang guru akan dianggap dalam posisi otoritas, sehingga merupakan target dari pemberontakan mereka. Cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakan para remaja adalah pertama, mencoba untuk mengerti mereka. Kedua, melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar berprestasi dalam bidang ilmu yang diajarkan. Jika guu menyadari untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut pada diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan siswa di dalam kelas akan dapat dikurangi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan.

Dari uraian diatas dapat kita disimpulkan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Emosi ini ada beberapa bentuk, yaitu: amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu: pola asuh orang tua, pangalaman traumatic, temperamen, jenis kelamin, usia, perubahan jasmani, perubahan interaksi dengan teman sebaya, perubahan pandagan luar, perubahan interaksi dengan sekolah.

Implikasinya dalam pendidikan adalah sehubungan dengan emosi peserta didik yang cendrung banyak melamun dan sulit diterka maka satu-satunya hal yang dapat guru lakukan adalah memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh dengan rasa tanggung jawab moral. Dalam hal ini, guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam pekerjaan atau tugas-tugas sekolah, sehingga mereka menjadi lebih mudah ditangani. Salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.

B. Saran.

Diharapkan kepada lembaga pendidikan, seperti: kepala sekolah, guru, karyawan untuk memperhatikan serta membimbing para peserta didik dalam perkembangan emosinya. Begitu juga dengan orang tua agar memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya. Agar perkembangan emosi pada diri peserta didik tersebut dapat diarahkan kearah yang positif.

DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Batusangkar

Ali, Mohammad, Mohammad Asrori. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Bumi Aksara.

Soesilowindradini. Psikologi Perkembangan (Masa Remaja). Surabaya: Usaha Nasional.

Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Jakarta: Pustaka Setia.

Sunarto, Ny Agung Hartono. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.

www.google.com

Jumat, 22 Mei 2009

Dukung Indonesia Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Meski baru mengajukan sebagai calon tuan rumah, kita harus selalu optimis bahwa Indonesia BISA menjadi tuan rumah penyelenggaraan piala dunia tahun 2022. Indonesia harus bisa menjadi tuan rumah. Kenapa?

Keuntungan Ekonomi

1. Tuan Rumah piala dunia diharuskan memiliki minimal 12 stadion bertaraf FIFA , dan menurut perhitungan PSSI dibutuhkan dana sekurangnya 8-10 triliun. Dalam ilmu ekonomi nilai sebesar itu dapat berlipat ganda dengan memanfaatkan efek multiplier. Dipastikan proyek ini akan menyerap jutaan tenaga kerja baru, sehingga tingkat pengangguran pasti juga akan turun.

2. Tidak ada penyelenggara piala dunia yang rugi.
Dalam catatan sejarah, tidak pernah ada penyelenggara piala dunia yang mengalami kerugian. Data terakhir menunjukkan, Jerman selaku penyelenggara piala dunia meraup untung sebesar 140 juta Euro.

3. Terciptanya pembangunan sarana dan prasarana fisik penunjang yang lebih baik.
Dipastikan dengan adanya piala dunia maka tidak hanya pembangunan stadion yang harus dilakukan, tapi juga bandara, hotel, restaurant, tempat hiburan serta jalan raya dan kesemuanya itu pasti akan menciptakan tata kota yang lebih baik.

Keuntungan Sosial

4. Jumlah perokok dipastikan turun.
Ingin mengurangi jumlah perokok, tidak lagi perlu memakai fatwa MUI. Dengan adanya piala dunia di Indonesia dipastikan orang-orang yang saat ini berusia 30-40 tahun akan berlomba-lomba menjaga kesehatannya, agar bisa menjadi saksi sejarah piala dunia dan salah satunya dengan mengurangi atau berhenti merokok.

5. Jumlah pengguna Narkoba pasti turun.
Dengan alasan yang sama dengan rokok, maka orang akan menghindari penggunaan narkoba, karena tidak ingin mati cepat sebelum tahun 2022.

6. Jumlah penderita HIV/AIDS pasti akan turun juga.
Sama dengan alasan sebelumnya. Orang-orang saat ini pasti akan lebih berhati-hati dalam melakukan seks bebas, setidaknya tidak tanpa kondom. Hal ini tentu akan memicu turunnya jumlah penderita HIV/AIDS.

Keuntungan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia

7. Meningkatkan rasa nasionalisme, memupuk persatuan nasional.
Dengan bersatu padu menyukseskan pergelaran ini, rasa nasionalisme sebagai bangsa yang bermartabat akan semakin terpupuk.

8. Turut menciptakan perdamaian dunia.
Sesuai dengan pembukaan UUD 1945. Satukan rasa, hilangkan perbedaan. Satu dunia melalui sportifitas sepakbola tanpa batas.

9. Membuktikan pada dunia bahwa Indonesia BISA!
Buktikan bahwa Indonesia MAMPU, Indonesia belum habis, Indonesia masih TANGGUH! Indonesia masih harus DIPERHITUNGKAN!

Bukan 'Bisa atau tidak?' tetapi "BAGAIMANA CARANYA KITA MELAKUKANNYA!"

"Road To Green World Cup 2022"
Viva Sepakbola Nasional Indonesia!




Source : Kaskus (roberto_carlos), Dari berbagai sumber
Hebat Kamu... Walaupun kamu memiliki banyak perencanaan dan kegiatan, tetapi kamu tetap mampu menciptakan romantisme dengan pasanganmu. Perhatian kecil yang kamu berikan dengan meluangkan waktu untuk selalu berkomunikasi dengan pasanganmu disela-sela kesibukanmu menempatkan kesetianmu pada urutan kedua. Nilai yang sangat pantas kamu dapatkan atas kesetiaanmu.. Ciyee Selamat ya..



Lihat Kartu Ucapan Lainnya
(KapanLagi.com)
hy friends...

weLcome to my bLog....